rahasia dibalik kredit card

Apa anda pernah memikirkan arti dari nomor kartu kredit, dan bagaimana angka-angka tersebut dihasilkan?

Atas dasar ilmu pengetahuan, berikut ini akan saya jabarkan RAHASIA-nya …

Pertama-tama anda harus mengenal bagian-bagian dari deretan angka pada kartu

Dari 16 angka yang anda lihat di kartu kredit Visa atau MasterCard, 6 digit pertamanya merupakan “entissuer idifier“, yaitu kode jenis kartu kredit tersebut.

Jika 6 digit tersebut diawali dengan 4, berarti kartu kredit tersebut berjenis Visa.

Namun, jika 6 digit tersebut diawali dengan 5, berarti kartu kredit tersebut berjenis MasterCard.

Berikutnya, 1 digit terakhir dari 16 digit angka di kartu kredit tersebut berfungsi sebagai “check digit“, yang fungsinya hanya untuk validasi pengecekan nomor kartu kredit tersebut.

Karena 6 digit awal dan 1 digit terakhir tersebut sudah memiliki arti, berarti tinggal tersisa 9 digit di tengah yang berfungsi sebagai “account number“.

Oleh karena terdapat 10 kemungkinan angka (dari angka 0 sampai dengan 9) yang bisa dimasukkan ke tiap digit dari 9 digit “account number” tersebut, maka kombinasi yang dihasilkan dari 9 digit tersebut berjumlah 1 milyar kemungkinan nomor untuk masing-masing jenis kartu kredit (Visa atau MasterCard).

Adapun algoritma yang dipakai untuk menghasilkan deretan 16 angka untuk nomor kartu kredit tersebut dinamakan algoritma “Luhn” atau “Mod 10“.

Dulu pada tahun 1954, Hans Luhn dari IBM adalah orang yang pertama kali mengusulkan penerapan algoritma untuk mengetahui valid atau tidaknya suatu nomor kartu kredit.

Cara kerja algoritma yang sederhana (tapi luar biasa) ini adalah sebagai berikut :

1. Dimulai dari digit pertama, kalikan 2 semua angka yang menempati digit ganjil, sehingga secara keseluruhan akan ada 8 digit yang anda kalikan 2, yakni digit ke 1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, dan 15.

2. Jika hasil perkalian 2 tersebut menghasilkan angka yang berjumlah 2 digit (10, 12, 14, 16, atau 18), maka jumlahkan angka masing-masing digit tersebut untuk menghasilkan 1 digit angka baru, sehingga hasil dari langkah pertama dan kedua ini tetap berupa 8 angka.

3. Langkah berikutnya, gantikan semua angka (nomor kartu kredit) yang terletak pada digit posisi ganjil tersebut dengan 8 angka baru tersebut, untuk menghasilkan deretan 16 angka baru.

4. Langkah terakhir, jumlahkan ke-16 angka tersebut. Jika hasil penjumlahannya merupakan kelipatan 10, berarti nomor kartu kredit tersebut valid, dan sebaliknya, jika tidak kelipatan 10, berarti nomor kartu kredit tersebut tidak valid.

Berikut ini saya berikan contoh perhitungan sebenarnya :

Seperti anda lihat di gambar di atas ini, nomor kartu kredit tersebut adalah adalah 4552 7204 1234 5678, karena diawali dengan 4, berarti kartu tersebut berjenis Visa.

Sekarang kita lakukan perhitungannya.

Jika sudah anda hitung dengan teliti, maka akan terlihat bahwa jumlah akhirnya adalah 61, yang BUKAN merupakan bilangan kelipatan 10, sehingga bisa dipastikan bahwa nomor kartu kredit tersebut adalah tidak valid.

Seandainya “check digit” di contoh tersebut bukan 8, melainkan 7, maka secara algoritma, nomor kartu kredit tersebut akan menjadi valid, karena total penjumlahannya akan berubah menjadi 60, suatu bilangan kelipatan 10.

Berikut ini contoh yang lain :

Sekali lagi, lakukan kalkulasi sesuai algoritma Luhn di atas untuk kartu kredit MasterCard dengan nomor 5490 1234 5678 9123 tersebut.

Seperti bisa anda hitung sendiri, total penjumlahannya adalah 65, sehingga nomor kartu kredit tersebut tidak valid, karena 65 BUKAN bilangan kelipatan 10.

Seandainya, “check digit” kartu kredit tersebut bukan 3, melainkan 8, maka hasil penjumlahannya akan menjadi 70, yang merupakan kelipatan 10, sehingga nomor kartu kredit tersebut akan menjadi valid (secara algoritma).

Pengertian valid di atas adalah valid secara perhitungan matematika, bukan berarti nomor kartu kredit tersebut benar-benar pasti nomor kartu kredit yang asli.

Karena untuk pengecekan kartu kredit (pada saat transaksi online, misalnya) dibutuhkan tidak hanya nomor kartu kreditnya saja, tapi juga “expiry date“, serta “card security code” atau disebut juga dengan CVV (Card Verification Value) atau pun CVC (Card Verification Code) yang merupakan 3 digit terakhir di balik kartu kredit tersebut.

P.S. : Untuk kartu kredit American Express, jumlah digitnya bukan 16, tapi cuma 15, dan selalu diawali dengan 34 atau 37 untuk 2 digit pertamanya. Sedangkan untuk “account number“-nya hanya memiliki panjang 8 digit, bukan 9 digit seperti kartu kredit jenis Visa atau MasterCard.

1. Ada dua orang, bapak dan anaknya melihat sebuah mobil impor yang sangat mewah. Dengan nada yang tidak pantas si anak berkata kepada ayahnya, “Orang yang duduk dalam mobil jenis ini, pastilah orang yang berpengetahuan sangat minim!”

Ayahnya lalu mejawab secara sepintas lalu, “Orang yang mengucapkan kata-kata semacam ini, dalam sakunya pasti tidak ada duit!”

——————————————————————
Bagaimana pandangan Anda mengenai masalah ini, apakah juga mencerminkan sikap sebenarnya dalam hati Anda?
——————————————————————

1. Ada dua orang, bapak dan anaknya melihat sebuah mobil impor yang sangat mewah. Dengan nada yang tidak pantas si anak berkata kepada ayahnya, “Orang yang duduk dalam mobil jenis ini, pastilah orang yang berpengetahuan sangat minim!”

Ayahnya lalu mejawab secara sepintas lalu, “Orang yang mengucapkan kata-kata semacam ini, dalam sakunya pasti tidak ada duit!”

——————————————————————
Bagaimana pandangan Anda mengenai masalah ini, apakah juga mencerminkan sikap sebenarnya dalam hati Anda?
——————————————————————

2. Setelah makan malam, seorang ibu dan putrinya bersama-sama mencuci mangkuk dan piring, sedangkan ayah dan putranya menonton TV di ruang tamu. Mendadak, dari arah dapur terdengar suara piring yang pecah, kemudian sunyi senyap. Si putra memandang ke arah ayahnya dan berkata, “Pasti ibu yang memecahkan piring itu.”

“Bagaimana kamu tahu?” kata si Ayah.

“Karena tak terdengar suara dia memarahi orang lain.”

——————————————————————
Kita semua sudah terbiasa menggunakan standar yang berbeda melihat orang lain dan memandang diri sendiri, sehingga acapkali kita menuntut orang lain dengan serius, tetapi memperlakukan diri sendiri dengan penuh toleran.
——————————————————————

3. Ada dua grup pariwisata yang pergi bertamasya ke pulau Yi Do di Jepang. Kondisi jalannya sangat buruk, sepanjang jalan terdapat banyak lubang. Salah satu pemandu berulang-ulang mengatakan keadaan jalannya persis seperti orang yang jerawatan.

Sedangkan pemandu yang satunya lagi berbicara kepada para turisnya dengan nada puitis, “Yang kita lalui sekarang ini adalah jalan protokol ternama di Yi Do yang bernama jalan berdekik yang mempesona.”

——————————————————————
Walaupun keadaannya sama, namun pikiran yang berbeda akan menimbulkan sikap yang berbeda pula. Pikiran adalah suatu hal yang sangat menakjubkan, bagaimana berpikir, keputusan berada di tangan Anda.
——————————————————————

4. Murid kelas 3 SD yang sama, mereka memiliki cita-cita yang sama pula yaitu menjadi badut. Guru dari Tiongkok pasti mencela, “Tidak mempunyai cita-cita yang luhur, anak yang tidak bisa dibina!”

Sedangkan guru dari Barat akan bilang, “Semoga Anda membawakan kecerian bagi seluruh dunia!”

——————————————————————
Kita sebagai angkatan tua, bukan hanya lebih banyak menuntut daripada memberi semangat, malahan sering membatasi definisi keberhasilan dengan arti yang sempit.
——————————————————————

5. Istri sedang memasak di dapur. Suami yang berada di sampingnya mengoceh tak berkesudahan, “Pelan sedikit, hati-hati! Apinya terlalu besar. Ikannya cepat dibalik, minyaknya terlalu banyak!”

Istrinya secara spontan menjawab, “Saya mengerti bagaimana cara memasak sayur.”

Suaminya dengan tenang menjawab, “Saya hanya ingin dirimu mengerti bagaimana perasaan saya … saat saya sedang mengemudikan mobil, engkau yang berada disamping mengoceh tak ada hentinya.”

——————————————————————
Belajar memberi kelonggaran kepada orang lain itu tidak sulit, asalkan Anda mau dengan serius berdiri di sudut dan pandangan orang lain melihat suatu masalah.
——————————————————————

6. Sebuah bus yang penuh dengan muatan penumpang sedang melaju dengan cepat menelusuri jalanan yang menurun, ada seseorang yang mengejar bus ini dari belakang.

Seorang penumpang menjengukkan kepala keluar jendala bus dan berkata dengan orang yang mengejar bus, “Hai kawan! Sudahlah Anda tak mungkin bisa mengejar!”

“Saya harus mengejar dia…” Dengan nafas tersenggal-senggal dia menjawab, “Saya adalah pengemudi dari bus ini!”

——————————————————————
Ada sebagian orang harus berusaha keras dengan sangat serius, jika tidak demikian, maka akibatnya akan sangat tragis! …saat harus menghadapi sesuatu dengan sekuat tenaga, maka kemampuan yang masih terpendam dan sifat-sifat khusus yang tidak diketahui oleh orang lain selama ini akan sepenuhnya keluar
——————————————————————

7. Si A : “Tetangga yang baru pindah itu sungguh jahat, kemarin tengah malam dia datang ke rumah saya dan terus menerus menekan bel di rumah saya.”

Si B : “Memang sungguh jahat! Apakah Anda segera melapor polisi?”

Si A : “Tidak. Saya menganggap mereka orang gila, yang terus menerus meniup terompet kecil saya.”

——————————————————————
Semua kejadian pasti ada sebabnya..jika sebelumnya kita bisa melihat kekurangan kita sendiri..maka jawabannya pasti berbeda.
——————————————————————

8. Zhang San sedang mengemudikan mobil berjalan di jalan pegunungan, ketika dengan santai menikmati pemandangan yang indah, mendadak dari arah depan datang sebuah truk barang.

Si sopir truk membuka jendela dan berteriak dengan keras, “Babi!”

Mendengar suara ini Zhang San menjadi emosi, dia juga membuka jendela memaki, “Kamu sendiri yang babi!”

Baru saja selesai memaki, dia telah bertabrakan dengan gerombolan babi yang sedang menyeberangi jalan.

——————————————————————
Jangan salah tafsir maksud kebaikan dari orang lain,.. hal tersebut akan menyebabkan kerugian Anda, dan juga membuat orang lain terhina.
——————————————————————

9. Seorang bocah kecil bertanya kepada ayahnya, “Apakah menjadi seorang ayah akan selalu mengetahui lebih banyak dari pada anaknya?”

Ayahnya menjawab, “Sudah tentu!”

“Siapa yang menemukan listrik?”

“Edison.”

“Kalau begitu mengapa bukan ayah Edison yang menemukan listrik?”

——————————————————————
Pakar acapkali adalah kerangka kosong yang tidak teruji.. lebih-lebih pada zaman pluralis terbuka sekarang ini.
——————————————————————

10. Ketika mandi Toto kurang hati-hati telah menelan sebongkah kecil sabun, ibunya dengan gugup menelpon dokter rumah tangga minta pertolongan.

Dokter berkata, “Sekarang ini saya masih ada beberapa pasien, mungkin setengah jam kemudian saya baru bisa datang ke sana.”

Ibu Toto bertanya, “Sebelum Anda datang, apa yang harus saya lakukan?”

Dokter itu menjawab, “Berikan Toto secangkir air putih untuk diminum, kemudian melompat-lompat sekuat tenaga, maka Anda bisa menyuruh Toto meniupkan gelembung busa dari mulut untuk menghabiskan waktu.”

——————————————————————
Jika peristiwa sudah terjadi, mengapa tidak dihadapi dengan tenang dan yakin… Dari pada khawatir lebih baik berlega,.. dari pada gelisah lebih baik tenang…
——————————————————————

11. Sebuah gembok yang sangat kokoh tergantung di atas pintu, sebatang tongkat besi walaupun telah menghabiskan tenaga besar, masih juga tidak bisa membukanya.

Kuncinya datang, badan kunci yang kurus itu memasuki lubang kunci, hanya diputar dengan ringan, ‘plak’ gembok besar itu sudah terbuka.

——————————————————————
Hati dari setiap insan, persis seperti pintu besar yang telah terkunci…walaupun Anda menggunakan batang besi yang besar pun tak akan bisa membukanya. Hanya dengan mencurahkan perhatian..Anda baru bisa merubah diri menjadi sebuah anak kunci yang halus, masuk ke dalam sanubari orang lain.

kepada calon istriku

Kepada Calon Istriku…

Assalammu’alaikum Wr. Wb….

Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care… Allah selalu bersama kita.

Calon Istriku…
Masihkah menungguku.. .? Hmm… menunggu, menanti atau whateverlah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?! Menunggu… hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang “istimewa”. Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa. Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu. Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat.

Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan- Nya, melihat fenomena kehidupan di sekitar tempat menunggu, atau sekadar merenungi kembali hal yang telah terlewati. Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan pikiran kosong. Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari “dunia lain” masuk ke jiwa.

Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu. Percayalah bahwa tak selamanya sendiri itu perih.

Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif. Mumpung waktu kita masih banyak luang. Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga. Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak. Karena permasalahan ummat saat ini pun makin banyak.

Karenanya wahai bidadari dunia…
Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang. Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bukan ku menunda. Tapi persoalan yang mendera bangsa ini kian banyak dan kian rumit. Belum lagi satu per satu kasus korupsi tingkat tinggi yang membuktikan bahwa negeri ini ‘Krisis Akhlak’.

Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini. Meski saat ini hidup untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit. Namun seperti seorang ustadz pernah mengatakan bahwa hidup untuk orang lain adalah sebuah kemuliaan. Memberi di saat kita sedang sangat kesusahan adalah pemberian terbaik. Bahwa kita belumlah hidup jika kita hanya hidup untuk diri sendiri.

Calon Istriku…
Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu. Aku akan datang, tapi mungkin tidak sekarang. Karena jalan ini masih panjang. Banyak hal yang menghadang. Hatiku pun melagu dalam nada angan. Seolah sedetik tiada tersisakan. Resah hati tak mampu kuhindarkan. Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan. Karang asaku tiada ‘ kan terkikis dari panjang jalan perjuangan hanya karena sebuah kegelisahan. Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan. Keputusan besar untuk datang kepadamu.

Calon Istriku…
Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu. Percayalah padaNYA, Yang Maha Pemberi Cinta, bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir. Yakinlah “saat itu” pasti ‘ kan tiba.

Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu. Karena kecantikan hati dan iman yang dicari. Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu. Karena aura keimananlah yang utama. Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga. Merasuk dan menembus relung jiwa.

Wahai perhiasan terindah…
Hidupmu jangan kau pertaruhkan. Hanya karena kau lelah menunggu. Apalagi hanya demi sebuah pernikahan. Karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat, tapi ia bisa hancur dalam sedetik. Seperti Kota Iraq yang dibangun berpuluh tahun, tapi bisa hancur dalam waktu sekian hari.

Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil. Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup. Pasrahkan inginmu sedalam kalbu pada tahajjud malammu. Bariskan harapmu sepenuh rindumu pada istikharah di shalat malammu. Pulanglah padaNYA, ke dalam pelukanNYA. Jika memang kau tak sempat bertemu diriku, sungguh itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci. Dan kau terpilih menjadi ainul mardhiyah di jannahNYA.

Calon Istriku…
Skenario Allah adalah skenario terbaik. Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita. Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya. Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita.

Calon istriku…
Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah ‘ kan menjelang jua. Saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan. Apa kabarkah kau di sana ? Lelahkah kau menungguku berkelana, lelahkah menungguku kau di sana ? Bisa bertahankah kau di sana ? tetap bertahanlah kau di sana . Aku akan segera datang, sambutlah dengan senyum manismu. Bila waktu itu telah tiba, kenakanlah mahkota itu, kenakanlah gaun indah itu. Masih banyak yang harus kucari, ‘tuk bahagiakan hidup kita nanti…

Calon istriku…
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir. Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera, kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang. Cinta membuat hati terasa terpotong-potong. Jika di sana ada bintang yang menghilang, mataku berpendar mencari bintang yang datang. Bila memang kau pilihkan aku tunggu sampai aku datang.

Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat. Dan mendo’akanmu agar kau selalu sehat, bahagia, dan mendapat yang terbaik dari-Nya. Aku tak pernah berharap kau ‘ kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini. Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup. Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini. Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau ‘tuk dikagumi. Akulah orang yang ‘ kan selalu mengagumi, mengawasimu, menjagamu dan mencintaimu.

Calon Istriku…
Saat ini ku hanya bisa mengagumimu, hanya bisa merindukanmu. Dan tetaplah berharap, terus berharap. Berharap aku ‘ kan segera datang. Jangan pernah berhenti berharap. Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup.

Bila kau jadi istriku kelak, jangan pernah berhenti memilikiku dan mencintaiku hingga ujung waktu. Tunjukkan padaku kau ‘ kan selalu mencintaiku. Hanya engkau yang aku harap. Telah lama kuharap hadirmu di sini. Meski sulit harus kudapatkan. Jika tidak kudapat di dunia, ‘ kan kukejar sang ainul mardhiyah yang menanti di syurga.

Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat, aku takut mungkin diriku terlalu liar bagimu. Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egoku, pelarian perasaanku dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku. Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti apa yang akan ku hadapi dan apa yang harus kucari dalam hidup.

Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini untuk dirimu yang selalu bijaksana. Aku goreskan syair sederhana ini, untuk dirimu yang selalu mempesona. Memahamiku dan mencintaiku apa adanya. Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku. Semoga…

Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu
Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu
Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti
Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati
Begitu indah kau tercipta bagi Adam
Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa
Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki
Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki
(Dewi Khayalan – Daun Band)

Ya Allah… ringankanlah, kerinduan yang mendera. Kupanjatkan sepotong doa setiap waktu, karena keinginan yang menyeruak di dalam diriku.
Ya Allah… ampuni segala kesilafan hamba yang hina ini ringankan langkah kami. Beri kami kekuatan dan kemampuan tuk melengkapkan setengah dien ini, mengikuti sunnah RasulMu jangan biarkan hati-hati kami terus berkelana tak perpenghujung yang hanya sia-sia dengan waktu dan kesempatan yang telah Engkau berikan.

Wassalamu’alaikum.

Penuh Cinta Selalu Untuk Selamanya,

tips menghadapi bos menyebalkan

Tips menghadapi boss yang menyebalkan ;)

1. Jangan biarkan Boss yang menyebalkan bisa mempengaruhi suasana hatiAnda. Tetap positif dan sikap apapun dari Boss akan menjadi lebih mudah untuk ditangani.

2. Diskusikan masalah ini dengan orang terdekat Anda, teman ataupun keluarga. Anda perlu berbagi mereka karena sharing itu pun juga bersifat terapi. Keluarga atau teman dekat dapat mendukung serta membantu Anda melalui hari-hari yang paling sulit di tempat kerja.

3. Jika Boss anda memberikan kritikan yang tidak perlu atau bahkan tidak adil, kadang mudah sekali Anda terlarut dalam debat kusir dengannya. Biasanya konfrontasi seperti ini merupakan cerminan pribadi bos anda yang buruk (insecurity) . Jadi lebih baik Anda hindari perdebatan seperti ini terutama tentang siapa yang benar atau salah. Langsung saja dengan membahas solusinya dengan sikap tenang.

4. Ambil cuti jika masalah ini mulai membuat Anda stress, sama seperti yang akan Anda lakukan jika Anda sakit secara fisik (demam,flu, dll). Karena stress juga akan berdampak terhadap kesehatan jiwa anda (depresi).

5. Hindari melapor atau mengadu ke Bos-nya Boss. Kemungkinan besar mereka akan mendukung atasan Anda dan ini bisa menyebabkan masalah lebih besar lagi. Lebih baik jalin hubungan baik dengan senior di perusahaan Anda, tetapi diluar rantai komando (beda department/divisi) . Mereka biasanya akan lebih obyektif . 

6. Jika Boss menyerang Anda secara tidak rasional, minta dia untuk menjelaskan ulang. Ini akan membantu Boss Anda untuk bisa memahami kekurangan dalam argumennya atau mungkin mendapat pemahaman lain dari sudut pandang anda.

8. Berbicara dengan teman dan rekan di tempat kerja. Cari tahu apakah mereka menerima perlakuan yang sama dan apakah mereka setuju bahwa itu tidak adil. Hal ini berguna untuk mengetahui apakah hal ini berlaku kepada anda secara khusus atau bos berlaku tidak adil kepada semua orang. 

9. Jangan bawa pekerjaan pulang. Ingat, boss anda hanya membayar waktu bekerja anda di kantor, bukan di rumah. Mereka tidak memiliki hak atas waktu senggang Anda di rumah. 

Tetap Semangat!!

Rosa S Rustam (Ocha)

menari di tengah hujan


Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan untuk melakukannya sendiri.

Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak tergesa-gesa.

Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untu makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.

Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat.

Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir.

Aku sangat terkejut dan berkata, “Dan Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?”

Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, “Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia, ‘khan?”

Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku masih tetap merinding, “Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hidupku.”

Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.

Bagiku pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting: Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki. ” Hidup bukanlah perjuangan menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah hujan.”

mengapa DIA menitipkan padaku

RENUNGAN INDAH
W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya :

mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
“derita” adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”…..

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama. Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Suatu hari nanti,
Saat semua telah menjadi masa lalu
Aku ingin ada di antara mereka
Yang beralaskan di atas permadani
Sambil bercengkerama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu
Hingga mereka mendapat anugerah itu.

Oleh: Anonim

Kerendahan Hati

August 24, 2007

oleh : Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Dikutip dari blog punya orang

ketika kubaca firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”

aku tahu, ukhuwah tak perlu diperjuangkan

tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman

aku ingat pertemuan pertama kita, akhi sayang

dalam dua detik, dua detik saja

aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan

itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra

dengan iman yang menyala, mereka telah mufakat

meskilisan belum saling sebut nama, dan tangan belum berjabat

ya, kubaca lagi firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”

aku makin tahu, persaudaraan tak perlu diperjuangkan

karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh

saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan

saat pemberian bagai bara api, dan saat kebaikan justru melukai

aku tahu, yang rombeng bukanlah ukhuwah kita

hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau menjerit

mungkin dua-duanya, mungkin kau saja

tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping

kubaca firman persaudaraan itu, akhi sayang

dan aku makin tahu,mengapa di kala lain diancamkan;

“para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain..

kecuali orang-orang yang bertaqwa”

-Salim A. Fillah-

lebaran tidak lewat sini

Lebaran Tidak Lewat Sini
oleh Fiyan Arjun
Menghitung bilangan hari Raya Idul Fitri memanglah gampang untuk diucapkan. Bak selaksa membuang air liur tanpa lebih dahulu diproses. Dibuang lantas tak perlu dipikirkan lagi. Namun hal ini beda bila bulan Ramadhan sudah dipenghujung hari. Sehingga tak terasa puasa sudah memasuki dua pekan dari hari pertama berpuasa. Tinggal 14 hari lagi seluruh umat muslimin di dunia akan menuju hari Kemenangan. Menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri dengan suka cita nantinya.Sayangnya hal itu tidak dirasakan oleh orang yang sangat familiar untuk saya. Dialah kakak perempuan saya. Ia merasa dibuat pusing tujuh keliling bila memikirkan hari Raya Idul Fitri. Atau, lebih dikenal dengan Hari Raya Lebaran. Dimana kakak saya itulah yang merasakan dampak dan efeknya bila hari raya itu tinggalah menjadi bilangan waktu yang akan segera tiba. Apalagi kalau bukan meluluskan permintaan baju Lebaran untuk anak perempuanya. Ironi memang!
“Memang puasa tinggal berapa hari lagi, Yan?” tanya kakak saya itu saat ia
sedang membuat bumbu masak untuk lauk pauk berbuka puasa di tengah hari teriknya matahari yang sangat membakar kulit.
“Lha, memangnya nggak tahu kalau puasa tinggal berapa hari lagi,” jawab saya
memastikan bahwa kakak saya itu memang benar-benar tidak tahu. Atau, memang ia lagi sibuk membuat bumbu masak jadi tidak tahu-menahu sudah berapa hari puasa terlewati.
“Iya nih habisnya mikirin dagangan lagi sepi dan si Pritha minta baju lebaran
lagi. Pusing nih Mpok, Yan!” seru kakak saya sambil mengoseng bumbu masak di dapur yang aroma baunya tercium sampai ke indera penciuman saya hingga…hatcihhh dan saya pun jadi terbersin-bersin. Itu semua karena kenakalan aroma bau bumbu masak yang di oseng kakak saya itu. Terus menggelitiki bulu hidung saya agar merasa ikut menikmati aroma itu. Hmm…untungnya iman saya kuat jadi segala aroma tercium tidak membuat keteguhan saya untuk menjalani ibadah puasa merasa terganggu sedikit pun. Apalagi sampai jebol. Ih, nggak kali,,,Malu sekali kalau hal itu sampai terjadi. Malu sama keponakan saya yang sekarang ini lagi belajar puasa sampai penuh. Pol! Puasa sebulan penuh. Jikalau hal itu bisa terjadi malu dong saya sebagai pamannya. Kok begitu aja tidak kuat tahan iman. Cape deh!

Saya yang melihat kegelisahan kakak saya yang memikirkan anak perempuannya yang—masih duduk dibangku kelas 6 SD itu merasa cukup prihatin selaku saya sebagai adiknya. Dikarenakan anak perempuannya itu tak mengerti juga untuk segera dibelikan baju Lebaran tanpa melihat kondisi orangtuanya (Ibunya) itu yang notabene kakak saya itu. Tidak mengerti kalau kondisi keuangan kakak saya itu lagi tak menentu hingga membuat ia semakin jadi tak konsentrasi menjalankan ibadahnya. Hmm…ternyata susah juga ya jadi orang tua?Jika saya melihat rasa kegelisahan saat-saat menjelang hari Raya Idul Fitri yang dialami kakak saya itu jadi teringat kawan saya yang belum lama ini curhat dengan saya. Lagi-lagi tentang Hari Raya Idul Fitri yang sebentar lagi tiba. Ya, walau lain kasus tapi tujuannya sama. Yakni, sama-sama gelisah untuk menghadapi hari raya nanti itu.
“Gue belum ada persiapan apa-apa ini, Yan,” ucap kawan saya saat ia membuka
topik pembicaraan tentang menjelang Hari Raya Kemenangan itu ketika sedang
silturahim ke rumah saya. Kawan saya itu terasa tidak afdhal bila hari raya itu
nanti tidak mempersiapkan apa-apa.
“Memangnya ente belum nyiapin apa,” jawab saya memastikan persiapan apa yang belum kawan saya siapi saat itu.
“Gue belum nyiapan THR buat para keponakan gue. Apalagi gue sudah married
berarti bukan keponakan gue aja yang perlu di kasih tetapi keponakan bini gue
juga, Yan,” terucap sudah apa yang menjadi kegelisahaan kawan saya itu ketika
hari-hari puasa hanya tinggal hitungan jari saja.
“Dikira apa! Ya, santai aja lagi. Nggak usah dipikirin kayak begitu. Gue juga
banyak keponakan tapi gue santai aja. Kalau ada ya kasih, lha kalau memang nggak ada mau dikata apa,” jawab saya apa adanya.
Kawan saya hanya geleng-geleng kepala saat saya berkata demikian. Ia tak
menyangka kalau saya menjawab seperti itu. Seperti saya tak ada beban saat-saat orang lain memikirkan akan datangnya Hari Raya Lebaran nanti tetapi ini saya santai saja. Hingga membuat kawan saya tambah pusing lagi melihat respon saya seperti itu. Ada-ada saja!
Lagi-lagi saya yang melihat keadaan kakak saya dan kawan saya itu saya jadi
khawatir jika hari raya sealu didentikan selalu baju baru Lebaran, kue Lebaran,
salam tempel serta THR. Wah, bisa-bisa kesakralan hari Raya Idul Fitri sendiri
itu akan ternoda dengan hal-hal semacam itu. Hanya karena baju baru Lebaram, kue Lebaran, salam tempel serta THR terus menggelayuti pikiran kakak saya dan kawan saya itu. Kalau sudah begitu bagaimana (mungkin) bisa menjalani ibadah puasa dengan tenang dan khusyu. Bila soal baju baru Lebaran buat anak, salam tempel buat para keponakan, kue Lebaran untuk penyambutan tamu jika bertandang disaat Lebaran hingga THR tidak tepat waktu diberikan oleh perusahaan menjadi hantu disaat hari Raya Idul Fitri sebentar lagi tiba.
Entahlah. Itu membuat saya mengernyitkan kening jika saya melihat apa yang sudah saya alami dari kejadian dua orang yang saya jadikan contoh. Agar saya selalu terus menguatkan ibadah saya agar tidak terusik dengan datang hari Raya Idul Fitri nanti. Toh, lagi pula memangnya Lebaran jadinya juga lewat sini. Begitulah ketika saya melempari joke-joke ketika kalau saya sedang berkumpul dengan kawan-kawan saya yang lainnya jika topiknya selalu membicarakan tentang hari Raya Idul Fitri yang sebentar lagi tiba. Alias, Lebaran yang identik
mempersiapkan keperluan ini-itu. Alah, pusing euy…Padahal belum tentu Lebaran lewat sini! Dan mereka yang mendengar guyonon saya seperti itu tentunya akan sejenak melupakan kegelisahannya saat itu. Hmm…aneh bin ajaib menjadi manusia itu ya? Diberi kenikmatan kadang lupa bersyukur. Bukannya berpikir tahun depan bisa bertemu Ramadhan lagi atau tidak. Lha ini malah memikirkan besok Lebaran pakai apa ya? Padahal belum tentu Lebaran tahun depan lewat sini!(fy)
Penulis adalah anggota dan pengurus FLP Jakarta dan penulis buku Bela Diri for
Muslimah. Jika ingin bersilaturahim tinggal
klik:http://sebuahrisalah.multiply.com/Fb:bujangkumbang@yahoo.co.id.

Ulujami—Pesanggrahan, 14 Ramadhan 1430 H

jangan pernah percaya yang saya katakan sebelum anda mencobanya

Shahabat yang baik…

Pernahkah anda mengalami tantangan dan ujian dalam hidup ini? Apapun itu bentuknya. Dan mungkin pernah juga menemukan nasehat-nasehat bijak dari teman atau saudara, dengan ungkapan indah “Ambil saja HIKMAH nya, Tentu ada maksud dari ini semua”

Mungkin terkadang jika itu menimpa kita, ada terbesit suara didalam dengan keluhan “Kamu tidak mengalaminya sih, jadi gampang ngomongnya.. . Ambil hikmahnya. Coba kalau kamu yang mengalami apa yang aku rasakan sekarang?”…

Barangkali itu sudah pernah kita alami atau mungkin sedang anda jalani. Banyak kejadian dalam hidup ini, terus datang silih berganti. Setelah selesai dengan peristiwa ini kemudian kita ditambahkan lagi dengan peristiwa itu.

Berfikir positive adalah anjuran kebaikan. Namun entah mengapa kejengkelan hati, lebih mudah muncul fikiran sebaliknya? Dibuku pengembangan diri, seminar motivasi, halaqah, Pengajian, dan ceramah-ceramah spiritual sudah sering kita dapatkan anjuran-anjuran berfikir baik. Bahkan kita tau bagaimana cara-cara berhusnuzon. Tapi Suudhonpun masih tetap terbayang-bayang. ..

Pengalaman memberikan therapy mental, saya berhadapan dengan orang-orang yang mengatakan sulit baginya merasakan, berada, dan melihat dari sisi positif. Dan pertanyaan-pertanya an “Apakah setiap kejadian, Ujian, Masalah, cobaan atau tantangan selalu ada sisi baiknya? Bahkan seperti masalah yang saya alami ini?” sering saya dengar.

Sehingga pertanyaan itu terngiang terus ditelinga ini. Saya mencoba merenungi, apa maksud dari ini semua. Apakah benar ya Allah Engkau menciptakan sesuatu tanpa ada maksud baik?

Ternyata tidak, Jika kita mengizinkan HATI yang mulia ini untuk merasakan sentuhan-setuhan kebijaksanaan. Pintu HIKMAH terbuka sangat lebar. Dan sisi huznudhon berdatangan bak tamu tak diundang.

Izinkan saya sharing, pintu-pintu himah yang pernah terbuka dikehidupan saya ;

Pemberangkatan kereta yang seharusnya jam 17.05 jakarta-cirebon dipending, karena rangkaian kereta masih di cirebon.

“Apabila saya jengkel dan marah-marah apakah keretanya ada distasiun Gambir? Mungkin ini kesempatan bagi saya untuk menghabiskan bacaan bab selanjutnya buku sedona Method”

Ditelp gak diangkat, disms pun gak dibalas.

“Dia belum ada pulsa untuk membalasnya, barangkali dalam perjalanan, entar kalau sudah ada pulsa pasti dibalas dan menghubungi kembali.”

Apa yang saya lakukan kok selalu dikomentarin, apa yang saya kerjakan kok selalu ada aja salahnya?

“Alhamdulillah ya Allah, engkau hadirkan orang-orang yang sangat memperhatikan saya dalam hidup ini. Dan terima kasih teman, engkau telah mau menjadi pengingat dan memberikan sudut pandang yang tidak aku lihat. Gratis lagi ya, sungguh engkau sangat baik”…

Impian dan cita-cita yang ingin saya raih, kok tidak didukung oleh orang-orang didekat saya?

“Mereka dihadirkan untuk pembukti komitmen, apakah saya benar-benar ingin mencapainya.”

Mengapa saya selalu diuji dengan masalah besar?

“Hanya Nabi dan para Rasul yang diberikan ujian besar oleh Allah. Dan orang-orang besar yang sudah sukses sekarang ini, dulunya mereka juga mengalami tantangan yang mengahadang. Dan saya hari ini telah dipilih menjadi bagian dari mereka.”

Disaat saya sedang lancarnya berbisnis kok diberikan sakit?

“Alhamdulillah ya Allah, beginilah cara-Mu memberikan waktu bagiku untuk istirahat.”

Sampai kapan saya harus menanti ini menjadi kenyataan?

“Sesuatu yang tumbuh dengan instan dan serba cepat, sifatnya rapuh. Buah kesabaran selalu dinikmati dengan hasil mengGEMBIRAKAN. (Dan sampaikanlah berita gembira bagi orang-orang yang SABAR”

Peserta seminar, atau siswanya kok pada ribut gak dengarin saya ngajar? Mereka kok ngantuk-ngantuk? Mereka kok gak interaktif?

“Ternyata saya cara ngajar saya sekarang belum efektive. Untung feedback ini terjadi sekarang, jadi saya mempunyai kesempatan lebih awal untuk belajar cara mengajar yang menyenangkan.”

Sudah dingatin beberapa kali kok belum berubah bahkan gak didengarin sih?

“Saya belum menemukan cara yang tepat untuk berpersusive dengan nya. Buktinya kalau orang lain yang ingatin, dia mau dengarin kok. Saya mesti belajar lagi ilmu komunikasi yang efektive.”

Pasar training dah menjamur dijakarta, trainer barupun sudah banyak bermunculan.

“Alhamdulillah, Tugas untuk berbagi semakin mudah dan ringan. Sekarang orang-orang yang seide untuk memikirkan tentang pengembagan ummat sudah banyak, jadi tidak sendiri lagi. Sehingga saya tinggal FOKUS aja di Penerapan NLP&Hypnosis untuk Motivasi dan Therapy. Lainnya sudah ada yang tangani. Dan kreativitas saya pun akan terasah dengan tajam.”

Penawaran saya kok belum ada yang merespon?

“Cara saya menawarkan belum tepat, saya mesti ganti dengan cara lain. Penawaran lebih ditingkatkan lagi frekwensinya, sehingga kesempatan untuk direspon bertambah banyak.”

Tentunya masih banyak lagi,kejadian dalam hidup ini yang bisa kita tanggapi dengan Pandangan dan Pemikiran Positive (Husnudhon). Shahabat, apabila anda mengalami tantangan dalam hidup ini, Ajukanlah pertanyaan kepada diri anda untuk menyikapinya dengan ;

“Apa hikmah dari kejadian ini? Dalam hal apa kejadian ini bermanfaat?”

Pengalaman saya, setelah mengajukan pertanyaan dan menemukan cara berfikir yang baik. Alhamdulillah emosi dapat terkontrol dengan baik. Sebelum saya mengakiri saya mengingatkan.

Jangan pernah percaya apa yang saya katakan, Sebelum anda mempraktekkanya.

katanya aku ini makhluk aneh

HADIAH CINTA
Bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!
Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi.Anak lelaki itu terisak-isak berkata, Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.”

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, “Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?” Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia.” kata sang ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.”
Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah…bahwa sang ibu tidak memiliki telinga.
“Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik sang ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?”
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.
NB:
Sahabat, kadang kita sebagai anak tidak menyadari betapa cintanya Orang Tua Kita (Ibu) kepada kita, mereka menumpahkan segala cintanya kpd anaknya. Coba bayangkan apa yg telah kita lakukan thd mereka, mereka kita kencingi ketika kita kecil, kita jadikan mereka pembantu (mencuci, membersihkan rumah, memasak setrika dll) sampai menjelang dewasapun kita masih merongrongnya dengan inilah itulah, Disaat kita mendapat kebahagiaan kita lupakan dia akan tetapi disaat musibah menimpa baru kita datangi mereka …. tapi ibu tetaplah ibu yg kasih sayangnya tidak terperi, hanya doa yang mampu kami panjatkan sbg bakti dari kami …… anakmu.
Ya, Allah Ampunilah Dosa2 ku dan Dosa Kedua Orang Tua-ku, Kasihani & Sayangi mereka sebagaimana mereka mengasuh dan menyayangi kami semenjak kecil….
Amien

Wassalamu ‘Alaikum salam Wr wb

sudahkah anda minum air putih (tawar) hari ini?

Air layak minum adalah air yang memiliki derajat keasaman normal (pH 6 – 8), tidak berasa, tidak berbau, jernih, terbebas dari kontaminan berbahaya dan benda asing.  Pengenalan lebih rinci tentang air minum, walau tidak berasa dan tidak berbau; ternyata mengandung jumlah mineral tertentu. Jika definisi ilmiah terlalu sulit diindera, maka cukuplah kita meneguk air yang baru keluar dari mata air pegunungan dengan konservasi baik. Itulah salah satu jenis air minum yang disediakan Tuhan untuk manusia di daerah tropis.

Mengapa air tawar? Kita tidak dapat menjawab pertanyaan ini dengan tuntas. Tapi perkembangan ilmu kesehatan, biologi, dan ilmu pangan dapat menjelaskan aspek-aspek logisnya.

Dalam reaksi-reaksi kimiawi dan biologi yang terjadi dalam sistem tubuh kita, air memegang peranan yang sangat vital. Salah satunya adalah menjadi media pertukaran energi, pertukaran ion, perpindahan molekul, meredam panas, alat transportasi, dan penyeimbang tekanan osmosa. Rincian ini tidak cukup untuk memenuhi syarat rasa bahasa kata vital. Tapi untuk menggenapkan, cukuplah menjadi perhatian kita bahwa dehidrasi (kekurangan air dalam sistem), merupakan penyebab kematian utama makhluk hidup (manusia termasuk di dalamnya) di muka bumi ini, apa pun pemicunya (diare, kemarau, udara panas, kelelahan, dll). Kesimpulan lain yang tidak kalah genting adalah keberadaan air merupaka petunjuk pertama dugaan adanya kehidupan, demikian pakem para penjelajah antariksa.

Pelajaran pengetahuan alam sekolah menengah menyimpulkan, banyak reaksi kimia yang mensyaratkan tingkat keenceran tertentu untuk menjamin proses reaksi berjalan dengan ideal. Dan beruntungnya, pengencer yang paling diterima oleh banyak senyawa kimia adalah air.  Anda bisa melakukan percobaan sederhana, bagaimana frustrasinya memasak kacang hijau dengan air gula. Kacang itu, tidak akan pernah merekah, walau Anda sudah merebusnya berjam-jam. Itulah rahasia para pedagang bubur kacang hijau, dimana ketika merebus kacang hijau, gulanya baru akan dimasukkan setelah merekah.

Dalam usus manusia, banyak fenomena perebusan kacang hijau ini. Jika sebelum, saat, dan sesudah makan, Anda minum air gula (apa pun nama generik dan merek dagangnya); maka bisa dibayangkan alotnya sistem pencernaan tubuh Anda dalam mengurai rantai panjang molekul-molekul makanan. Alih-alih nutrisinya dapat diekstrak, dialirkan, dan diambil manfaatnya, melainkan ‘bantat’ untuk terbuang bersama faeses atau menjadi gumpalan ‘belum berguna’ yang tersimpan secara akumulatif sebagai pemungkin penyimpangan sistemik dalam jangka panjang.

Ketika ‘Nenek’ Titik Puspa ditanya mengenai rahasia awet mudanya, salah satu yang sangat penting adalah kebiasaan selalu minum air putih. Maka, dengan alasan yang lebih jernih dan logis, mari kita tingkatkan budaya minum air putih (tawar). Juga sebagai kebaikan yang tinggi dalam menyambut penuh suka cita (syukur) atas anugerah-Nya. “… dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar” dalam Al Qur’an surat Al Mursalat (77) : 27.

Sudahkah hari ini kita minum air putih (tawar)?

Semoga catatan sederhana air putih ini, turut menguatkan alasan-alasan Anda lainnya.
Atau berdamping damai bersama pendapat Anda tentang kebiasaan mengonsumsi minuman berwarna, berasa, dan beraroma tajam.

Selamat bersyukur atas limpahan nikmat di akhir pekan yang membahagiakan ini.

Syarif Niskala
(Blogger as syarifniskala. com)